REVIEW FILM EX-MACHINA



Sebagai orang awam untuk me-review film, pada saat pertama kali saya nonton film ini saya harus membutuhkan waktu lama untuk mengerti alur cerita dari film ini, ceritanya yang membingungkan dari awal hingga akhir penuh dengan kebohongan yang tak terduga di tambah saya baru mulai menonton di sekitar menit ke-15. Sehingga membuat saya berpikir keras bagaimana awal cerita dari film ini.

Film ini bergenre science-fiction, dan di sutradarai oleh Alex Garland ini sebenarnya bukanlah tipikal film sci-fi yang glamor dengan kemegahan efek dan plot cerita. Melalui tokoh Caleb (Domhnall Gleeson) membawa kita berkenalan dengan Ava, robot yang kecerdasan luar biasa ditambah lagi dengan desain wajah yang sangat cantik layaknya putri raja (Hahahaha). Ava diperankan oleh Alicia Vinkander, robot ini diciptakan dan di program yang serupa dengan apa yang dipunyai manusia empati dan seksualitas agar mirip seperti manusia sesungguhnya . Caleb pemuda pandai yang berhasil lolos tes yang di adakan oleh Nathan (Oscar Isaac) untuk mengevaluasi kadar "kemanusiaan" dari robot tersebut.

Lewat dialognya yang smart dan cenderung filosofis, Ex Machina hadir sebagai sebuah film yang cerdas. Terlampau cerdas sebenarnya, karena percakapan antara Caleb dan Nathan itu yang membuat saya sulit untuk memahami cerita terebut. Special effect yang dihadirkan juga membuat saya sulit membedakan mana yang manusia dan mana yang robot. Yang paling mencuri perhatian tentu saja adalah Alicia Vinkander yang berperan sebagai si robot Ava, dengan mata bulatnya yang simpatik, mampu menghadirkan sosok Ava dengan begitu baik : separuh robot dan separuh manusia.

Yang pertama, dan mungkin terbilang yang paling fatal, adalah koneksi antara Caleb dan Ava yang tidak terlalu dalam. Padahal, seharusnya pondasi film ini ada pada hubungan keduanya, dan sayangnya bagi saya Alex Garland tidak cukup terampil dalam memberikan koneksi yang meyakinkan antara keduanya. Interaksi keduanya dilakukan lewat percakapan basa-basi antara Caleb dan Ava yang dipisahkan oleh sebuah dinding kaca tebal, sehingga rasanya mustahil bagaimana keduanya kemudian tiba-tiba saling peduli satu sama lain (apalagi Caleb). Dan jika memang Alex Garland ingin membangkitkan rasa simpati kita kepada Ava, dimana jika kita benar-benar simpati sebagaimana yang dirasakan Caleb akan mengantarkan kita kepada twist tidak terduga di akhirnya, maka Alex Garland boleh dikatakan gagal. Because I feel no sympathy at all.

Hadir sebagai perpaduan genre science-fiction dengan mystery-suspense, maka sesungguhnya Ex Machina sudah cukup bagus dalam membawakan atmosfer yang menegangkan dan misterius, terutama dengan rumah tempat tinggal Nathan yang walaupun modern dan futuristik namun juga meninggalkan kesan claustrophobic. Tapi ternyata suasana menegangkan itu tidak seperti yang kesan yang ditampilkan di trailerya. Kesalahan mungkin ada pada bahwa misterinya yang agak bisa mudah ditebak. Singkat cerita langsung saja ending dari fim EX Machina ini tergolong film bad ending kalau menurut saya, karena si caleb yang menyusun rencana agar bisa menyelamatkan si robot Ava lalu dengan mudahnya di khianati oleh Ava. Dan setelah Ava berhasil keluar dari ruangan yang selama ini mengurungnya Ava mengajak Kyoko (robot pelayan Natahan) dan langsung membunuh si pencipta (Nathan) lalu menjebak dan mengkunci caleb di Ruangan tempat Ava diciptakan dan Ava dapat hidup bebas diluar sana. Dari cerita ini kita mendapatkan hikmah kalau kita jangan mudah ceroboh dan kita tidak boleh kalah dengan teknologi yang kita ciptakan. Kita TIDAK BOLEH PERCAYA dengan manusia mesin? Bukankah itu sudah semacam pelajaran paling mendasar dari semua film bertemakan artificial intelligence? Dan mungkin karena itulah, ketika rahasia demi rahasia akhirnya terkuak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tenggelam

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI

7 Cara Membuka HP yang Lupa Kata Sandi Tanpa Factory Reset